Sudah 9 tahun saya merayakan pergantian tahun di rumah. Biasanya, keluarga besar saya akan berkumpul di rumah nenek. Kebiasaan yang dilakukan adalah tiup lilin bagi mereka yang berulangtahun di akhir Desember, bakar jagung, main kembang api, dan pulang. Ya, pulang. Tidak perlu menunggu hingga pergantian tahun untuk kembali ke rumah masing-masing dan tidur. Maklum, tuan rumahnya biasa tidur setelah sholat Isya :p
Berbeda dengan akhir tahun lalu, saya diminta secara khusus (*uhuk* merasa penting) oleh om dan tante saya untuk menjadi ‘penjaga’ bagi adik dan sepupu saya yang sudah (tapi bagi orangtua masih) SMP, SMA, dan kuliah. Mereka ingin berjalan-jalan, melihat keramaian dan kembang api di tengah kota. Awalnya saya mengantuk dan ingin tidur di rumah saja. Namun, saya pun menyerah melihat wajah para abege yang ingin sekali jalan-jalan ini. Kami pun berangkat menuju pusat kota Bogor.
Lalu lintas Bogor di malam tahun baru ternyata cukup ramah. Masyarakat hanya berkumpul di titik tertentu sehingga tidak macet. Setelah puas berkeliling, kami pun memutuskan untuk berhenti di Tugu Kujang. Tugu yang menjadi simbol Kota Bogor ini sudah dipenuhi orang. Kendaraan parkir di jalan raya. Masyarakat duduk di jalan sambil menenteng jajanan dan terompet. Tua, muda, semua berkumpul untuk melihat kembang api. Berbagai pedagang pun tak kalah ingin meraih rezeki di akhir dan awal tahun.
Jalanan yang ditutup tentunya membuat lalu lintas cukup ruwet di sekitar Jalan Pajajaran menuju Tugu Kujang. Yang menarik dalam pemandangan malam di Kota Bogor saat malam tahun baru itu adalah pengatur lalu lintasnya. Tidak hanya polisi, tetapi ada sepasukan pemuda berusia SMA mengenakan seragam Pramuka lengkap, turut membantu polisi Kota Bogor mengatur lalu lintas! Dengan peluit dan berbagai emblem di seragam Pramuka, mereka tak kalah gagah dengan bapak dan ibu polisi.
Ketika pergantian tahun baru usai, mereka pun dengan sabar membantu mengatur arus lalu lintas bersama polisi. Ternyata, tidak hanya Pramuka, tetapi ada juga Pasukan Keamanan Sekolah yang turut membantu para Provos. Emblem di seragam putih-putih pun digantikan dengan tanda PROVOS di lengan atas. Peluit dan arahan tangan oleh para Pramuka dan Pasukan Keamanan Sekolah bersama para aparat kepolisian dan TNI pun membuat arus lalu lintas yang padat menjadi teratur dan lancar.
2011 telah berakhir. 2012 pun hadir. Sepesimis apapun berita tentang Indonesia, kontribusi nyata para pemuda di pergantian tahun tersebut membuat saya optimis. Indonesia bisa menjadi lebih baik dengan kontribusi peran setiap orang. Tidak perlu menunggu menjadi polisi untuk mengatur lalu lintas. Menjadi Pramuka dan Pasukan Keamanan Sekolah pun bisa membantu mengatasi kemacetan!
Small thing leads to something bigger. Sesederhana itu kok
K e r e n !